Sambo Sunim, Sang "Chupa Chups Monk" Meninggal Dunia: Hidup Sederhana, Warisan Miliaran Rupiah untuk Pendidikan

Biksu "Chupa Chups" Sambo Sunim Meninggal - Derma Seluruh Harta 3 Miliar KRW

Jun 2, 2026 - 05:20
 0  0

Seola – Kalau lo pernah nonton Korea Travel – Mountain Temples in Winter di EBS tahun 2020, pasti inget sama adegan ikonik ini: seorang biksu tua duduk tenang, tiba-tiba anjing kesayangannya, Bori, nyelonong naik ke pangkuan dan slurp-jilat kepala sang biksu sambil wajahnya tetap datar kayak patung. Adegan itu viral abis, dan sejak itu, Sambo Sunim (atau Venerable Sambo) jadi terkenal dengan julukan "Chupa Chups Monk"-biksu yang bawa permen lollipop di hatinya (dan anjingnya).

Tapi di balik julukan lucu itu, ada cerita hidup yang begitu sederhana, tapi penuh makna. Pada 27 Mei 2026, Sambo Sunim meninggal dunia di usia 76 tahun, meninggalkan warisan bukan cuma dalam bentuk uang, tapi juga teladan tentang hidup tanpa harta, tapi kaya akan kebaikan.

---

Dari Medan Perang Vietnam ke Jalan Kebijaksanaan: Perjalanan Hidup Sambo Sunim

Sambo Sunim lahir di era yang jauh dari kata "damai". Tahun 1965, di usia 15 tahun, dia pertama kali menginjakkan kaki di Woljeongsa Temple, PyeongChang, dan bertemu dengan Master Tanheo-guru yang mengubah hidupnya. Dari situ, dia memulai perjalanan spiritualnya, berlatih di berbagai kuil seperti Jeongamsa dan Sangwonsa, hingga akhirnya menjabat posisi penting di Jogye Order (ordo Buddha terbesar di Korea).

Tapi hidupnya nggak cuma di dalam kuil. Tahun 1970, dia wajib militer dan dikirim ke Vietnam sebagai Marinir. Di sana, dia dianugerahi Hwarang Distinguished Military Service Medal-penghargaan militer tertinggi Korea-atas jasanya. Bayangin aja, seorang biksu yang seharusnya damai, tapi harus berperang dulu buat ngelindungin negaranya.

Puncak ujian hidupnya datang tahun 1980, saat rezim Chun Doo-hwan (diktator Korea Selatan saat itu) melakukan penindasan terhadap komunitas Buddha. Sambo Sunim menolak kebijakan itu dan malah ditahan paksa di Samcheong re-education camp-tempat yang terkenal brutal dan kontroversial. Tapi, alih-alih menyerah, dia tetap teguh pada keyakinannya.

---

"Aku Nggak Butuh Uang, Tapi Dunia Butuh Bantuan"

Sambo Sunim hidup dengan filosofi "non-possession"-tidak melekat pada harta benda. Dia tidak punya rumah pribadi, mobil, atau barang mewah. Bahkan, dia tidak menyimpan uang untuk dirinya sendiri.

Tahun 2015, dia menyumbangkan 330 juta KRW (sekitar Rp3,5 miliar) untuk restorasi kuil dan amal. Tapi puncaknya adalah tahun 2020, ketika dia menyumbangkan SEMUA tabungannya-termasuk tunjangan disabilitas yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun-sebesar 3 miliar KRW (Rp32 miliar!) ke Woljeongsa Temple.

Tujuannya? Supaya uang itu bisa dipakai untuk membantu siswa yang kesulitan biaya pendidikan.

"Aku sudah tua, nggak butuh uang lagi. Tapi anak-anak muda butuh kesempatan untuk belajar. Itu lebih berharga daripada uang yang disimpan di bank."

Kata-kata sederhana, tapi begitu dalam. Di era di mana orang berlomba-lomba flexing kekayaan, Sambo Sunim justru melepaskan semuanya demi orang lain.

---

Bori, Sang Sahabat Setia yang Jadi "Brand Ambassador" Tanpa Sadar

Salah satu alasan Sambo Sunim jadi terkenal adalah Bori, anjing kesayangannya. Dalam dokumenter EBS, Bori sering terlihat mengikuti sang biksu ke mana-mana, bahkan sampai naik ke pangkuan dan menjilati kepalanya saat wawancara. Adegan itu viral abis, dan netizen langsung kasih julukan "Chupa Chups Monk" karena kelucuannya.

Bori bukan cuma sekadar peliharaan-dia adalah teman sejati Sambo Sunim. Sayangnya, Maret 2024, Bori meninggal di usia 10 tahun. Sambo Sunim, yang biasanya tenang, terlihat sangat sedih saat itu. Mungkin, di antara semua pengorbanannya, Bori adalah satu-satunya "harta" yang dia izinkan untuk tetap ada di sisinya.

---

Pemakaman Sederhana, Warisan Abadi

Sambo Sunim meninggal pada 27 Mei 2026, tapi upacara pemakamannya baru diadakan dua hari kemudian di Woljeongsa Temple. Sesuai dengan ajaran Buddha, jenazahnya dikremasi dalam upacara tradisional yang sederhana.

Nggak ada mobil mewah, bunga mahal, atau upacara megah. Yang ada hanyalah doa, dupa, dan kenangan dari orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya.

---

Seola’s Take: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Sambo Sunim?

Mimin nggak bisa nahan buat ngeluarin sedikit opini di sini. Di zaman di mana materialisme merajalela, Sambo Sunim adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati nggak datang dari harta.

  • Dia hidup sederhana, tapi kaya akan kebijaksanaan.
  • Dia berkorban untuk negaranya, tapi tetap setia pada keyakinannya.
  • Dia menyumbangkan miliaran rupiah, tapi tidak pernah meminta pujian.
  • Dia dicintai jutaan orang, tapi tetap rendah hati.

Dan yang paling penting? Dia meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada uang: teladan.

Jadi, kalau lo lagi stres mikirin deadline, hater, atau FOMO karena lihat orang lain flexing di sosmed, inget aja sama Sambo Sunim. Kadang, melepaskan justru membuat kita lebih bebas.

Rest in peace, Chupa Chups Monk. Semoga Bori udah nungguin lo di sana, siap-siap slurp kepala lo lagi. 🙏🐶

---

#KLifestyle #Buddhism #SamboSunim #ChupaChupsMonk #KoreaCulture #Inspiration

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0