Petisi Pembubaran 'Perfect Crown' Tembus 25.000 Tanda Tangan, MBC Panik?

Drama "Perfect Crown" Dikecam - 25 Ribu Tanda Tangan dalam 2 Hari

May 24, 2026 - 07:48
 0  2
Petition calling for cancellation of 'Perfect Crown' surpasses 25,000 signatures amid controversy - Photo 1
1 / 2

Petition calling for cancellation of 'Perfect Crown' surpasses 25,000 signatures amid controversy - Photo 1

Kalau kalian lagi scroll media sosial akhir-akhir ini, pasti nggak bisa lewatkan satu drama yang bikin heboh: 'Perfect Crown' garapan MBC. Bukan karena rating-nya meledak atau karena OST-nya viral, tapi karena kontroversi yang bikin warganet Korea geram banget. Sekarang, petisi resmi untuk membatalkan drama ini sudah menembus 25.549 tanda tangan dalam waktu kurang dari dua hari. Ya, kalian baca itu benar - dua hari.

Dan Seola bakal bahas semuanya di sini, dari awal mula drama ini bikin ribut sampai ke respons pihak produksi. Jadi, stay tuned.

Awal Mula Kontroversi 'Perfect Crown'

Jadi, ceritanya begini. 'Perfect Crown' adalah drama historis (sageuk) yang tayang di MBC dan dibintangi oleh dua nama besar: IU dan Byeon Woo Seok. Drama ini sebenarnya sudah selesai tayang pada 16 Mei, tapi justru setelah Episode 11-nya yang sudah ditayangkan sebelum drama berakhir, kontroversi mulai memuncak.

Masalahnya? Distorsi sejarah yang cukup serius.

Dalam satu adegan koronasi Grand Prince Ian yang diperankan oleh Byeon Woo Seok, para pejabat di drama tersebut berteriak "Cheonse" - sebuah istilah yang secara historis digunakan oleh negara vasal (bawahan), bukan negara merdeka. Padahal, seharusnya mereka menggunakan kata "Manse" yang melambangkan negara berdaulat dan independen. Ini bukan soal sepele, karena dalam konteks sejarah Korea, perbedaan kedua istilah ini sangat fundamental.

Belum lagi, ada masalah dengan mahkota upacara sembilan manik-manik yang digunakan dalam drama tersebut. Mahkota itu secara tradisional dipakai oleh pejabat kerajaan bawahan Tiongkok, bukan oleh raja dari negara berdaulat. Raja dari negara merdeka seharusnya memakai mahkota dua belas manik-manik. Jadi, secara simbolis, drama ini seolah-olah menempatkan Korea sebagai negara bawahan, bukan negara merdeka.

Nah, ini yang bikin warganet geram. Bukan cuma soal "eh, kostumnya salah" atau "eh, sejarahnya agak ngawur". Ini soal identitas nasional dan kedaulatan budaya yang dianggap dilanggar.

Isi Petisi yang Bikin Heboh

Pada 22 Mei KST, sebuah petisi resmi dipasang di papan petisi publik Dewan Nasional Korea Selatan. Dan isinya? Nggak main-main.

Pemohon petisi menuduh drama ini berulang kali menampilkan "ketidakakuratan sejarah yang jelas dan pilihan penyutradaraan yang tampaknya dipengaruhi oleh agenda budaya negara lain." Petisi ini secara spesifik menyoroti tiga hal utama:

  • Distorsi gelar kerajaan dan status nasional - penggunaan istilah "Cheonse" alih-alih "Manse" yang menghapus kedaulatan Korea.
  • Penggunaan berlebihan elemen budaya asing - terutama simbol-simbol yang lebih mengarah ke budaya Tiongkok daripada Korea.
  • Ketidakakuratan dalam kostum kerajaan simbolis - mahkota sembilan manik-manik yang seharusnya tidak digunakan oleh raja Korea.

Tapi nggak cuma berhenti di situ. Pemohon petisi juga menuntut tindakan tegas dari pihak berwenang:

"Komisi Standar Komunikasi Korea dan lembaga pemerintah terkait harus segera menangguhkan siaran drama ini yang telah melakukan distorsi sejarah yang serius dan pelanggaran budaya."

Selain itu, petisi ini juga menuntut penghapusan total dari semua platform VOD dan OTT, baik domestik maupun luar negeri, untuk mencegah penyebaran apa yang mereka sebut sebagai "representasi budaya yang terdistorsi."

Dan yang paling keras? Pemohon juga meminta sanksi permanen terhadap penyiar yang "merusak identitas nasional dan kedaulatan budaya dengan dalih fiksi," termasuk pembatasan izin siaran dan pengecualian dari pendanaan pemerintah di masa depan.

Angka yang Bicara: 25.549 Tanda Tangan dalam Kurang dari Dua Hari

Petisi ini akan tetap terbuka hingga 21 Juni KST. Jika berhasil mengumpulkan 50.000 tanda tangan dalam 30 hari, maka petisi ini akan dirujuk ke komite parlemen terkait untuk dibahas lebih lanjut.

Dan inilah yang bikin semua orang geleng-geleng kepala. Per 23 Mei KST, petisi ini sudah mengumpulkan 25.549 tanda tangan. Artinya, sudah lebih dari separuh ambang batas yang dibutuhkan, dan itu baru dalam waktu kurang dari dua hari sejak petisi dipasang.

Kalau laju ini terus berlanjut, 50.000 tanda tangan bisa tercapai jauh sebelum batas waktu 30 hari. Dan kalau sampai dirujuk ke parlemen, ini bisa jadi preseden serius untuk industri drama Korea ke depan.

Respons Pihak Produksi: Maaf, Tapi Apakah Cukup?

Menghadapi badai kritik ini, pihak produksi akhirnya angkat bicara. Tim produksi merilis pernyataan resmi yang berbunyi:

"Kami dengan tunduk meminta maaf telah menimbulkan kekhawatiran terkait isu pembangunan dunia fiksi dan akurasi sejarah drama ini. Kami mengambil kritik pemirsa dengan sangat serius dan akan merevisi audio dan subtitle yang relevan dalam siaran ulang serta layanan VOD dan OTT secepat mungkin."

Director Park Joon Hwa, penulis Yoo Ji Won, dan para pemeran utama IU dan Byeon Woo Seok juga secara terpisah meminta maaf atas kontroversi ini.

Tim produksi juga mengumumkan rencana untuk menghapus adegan yang diperdebatkan dari rilis di masa depan. Selain itu, pop-up store drama yang beroperasi di sebuah department store di Yeouido juga akan ditutup lebih cepat dari jadwal yang direncanakan semula.

Opini Seola: Ini Bukan Cuma Soal Drama

Oke, jadi di sinilah Seola mau jujur.

Seola paham, drama itu fiksi. Drama itu hiburan. Dan ya, kreativitas memang punya ruang untuk interpretasi. Tapi ada batas antara kreativitas dan distorsi yang merusak identitas budaya.

Ketika sebuah drama historis - yang ditonton oleh jutaan orang di Korea dan di seluruh dunia - secara sengaja atau tidak sengaja menggunakan simbol yang menghapus kedaulatan sebuah negara, itu bukan lagi soal "ya udah, namanya juga drama." Itu soal tanggung jawab.

Dan Seola rasa respons dari pihak produksi, meskipun sudah meminta maaf, masih belum cukup. Meminta maaf itu bagus. Merevisi audio dan subtitle itu bagus. Menghapus adegan itu bagus. Tapi pertanyaan besarnya tetap ada: bagaimana ini bisa lolos quality control dari awal?

Sebuah drama dengan skala sebesar 'Perfect Crown', dibintangi oleh bintang sekelas IU dan Byeon Woo Seok, dengan budget yang pasti nggak kecil - bagaimana tim riset sejarahnya bisa melewatkan kesalahan sefatal ini? Apakah tidak ada konsultan sejarah? Apakah tidak ada yang double-check simbol-simbol yang digunakan?

Ini yang bikin Seola agak skeptis. Maaf itu penting, tapi pencegahan lebih penting lagi.

Dan satu lagi - Seola juga mau bilang bahwa respons publik Korea di sini menunjukkan sesuatu yang bagus. Masyarakat mereka peduli dengan sejarah dan budaya mereka. Mereka nggak diam aja ketika ada yang dianggap merusak identitas nasional mereka. Dan mereka menggunakan mekanisme demokratis - dalam hal

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0