Petisi Bubarkan 'Perfect Crown' Mendadak Membludak, Tanda Tangan Capai 25% Target dalam Sehari

Petition Hentikan "Perfect Crown" Tembus 25% dalam Sehari

May 24, 2026 - 05:03
 0  0
[theqoo] PLEASE SCRAP 'PERFECT CROWN'... PETITION REACHES 25% OF SIGNATURES IN JUST ONE DAY - Photo 1
1 / 2

[theqoo] PLEASE SCRAP 'PERFECT CROWN'... PETITION REACHES 25% OF SIGNATURES IN JUST ONE DAY - Photo 1

Publik Indonesia Juga Mulai Soroti, Ini Kronologi Lengkapnya

Kalau kalian pikir kontroversi drama Korea soal distorsi sejarah cuma urusan domestik, think again. Drama terbaru MBC, Perfect Crown, sekarang jadi bahan perbincangan panas-bukan cuma di Korea, tapi juga mulai menyentuh audiens internasional. Dan yang paling signifikan? Sebuah petisi resmi di National Assembly Korea menuntut pembatalan total drama ini, dan angkanya naik drastis dalam hitungan jam.

Seola bakal breakdown semuanya di sini, dari awal kontroversi sampai reaksi publik yang makin hari makin keras.

---

Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan 'Perfect Crown'?

Singkatnya: Perfect Crown diadaptasi dari webtoon populer dan digarap oleh tim produksi yang sebelumnya punya track record solid. Tapi begitu episode pertama tayang, langsung muncul tudingan serius-distorsi sejarah, penggambaran budaya yang problematik, dan yang paling sensitif, indikasi drama ini secara tidak langsung mendukung narasi dari proyek budaya asing tertentu yang sudah lama jadi titik panas di kawasan.

Petitioner di National Assembly menyebutkan tiga poin utama yang jadi landasan tuntutan mereka:

  • Distorsi martabat nasional dan gelar kehormatan - cara drama memperlakukan simbol-simbol negara dianggap menghina dan menyimpang dari fakta sejarah yang sudah mapan.
  • Peminjaman budaya asing secara sembarangan - adegan-adegan yang mengklaim elemen budaya Korea sebenarnya berasal dari negara lain.
  • Kesalahan pada pakaian simbol nasional - kostum dan atribut yang seharusnya merepresentasikan identitas Korea justru digambarkan dengan asal-asalan.

Ini bukan sekadar "oh, ada kesalahan kecil di kostum." Ini levelnya sudah menyentuh identitas nasional, dan publik Korea bereaksi keras karena mereka punya memori kolektif yang sangat sensitif soal klaim budaya lintas negara.

---

Isi Petisi: Bukan Minta Maaf, Minta DIBUBARKAN

Yang menarik-dan ini yang bikin Seola respect-petisinya nggak cuma minta koreksi atau permintaan maaf. Mereka menuntut dua hal spesifik:

"Minta Korea Communications Standards Commission dan otoritas pemerintah terkait segera memerintahkan penghentian siaran drama ini yang telah melakukan distorsi sejarah berat dan appropriasi budaya."
"Untuk mencegah budaya yang terdistorsi menyebar ke seluruh dunia, paksa penghapusan dan penghapusan total program ini dari semua layanan VOD dan OTT domestik dan internasional yang sudah dirilis (di semua platform)."

Gelas setengah kosong atau setengah penuh? Di sini, publik jelas memilih jalan ekstrem: hapus total. Bukan edit, bukan revisi, tapi scrapped. Dan mereka punya alasan-begitu konten sudah masuk ke platform streaming internasional, kerusakan reputasi sudah terjadi. Koreksi di tengah jalan nggak cukup.

---

Angka yang Bicara: 12.000 Tanda Tangan dalam Sehari

Petisi ini punya batas waktu sampai 21 Juni. Kalau dalam 30 hari berhasil kumpulkan 50.000 tanda tangan, maka akan dibawa ke komite parlemen yang relevan. Dan ini yang bikin semua orang angkat alis:

Hanya dalam satu hari, sudah 12.000 orang menandatangani.

Itu 24% dari target, hampir seperempat, dalam 24 jam. Kalau momentum ini terus berlanjut, 50.000 bukan angka yang mustahil. Bahkan komentar di forum-forum sudah mulai menyebut angka 43% target tercapai-artinya di beberapa titik, angka ini terus merangkak naik bahkan saat artikel asli ditulis.

Beberapa komentar yang Seola kumpulkan dari thread asli:

  • "I just signed"
  • "I signed at dawn"
  • "I was the 21,748th vote"
  • "It's now at 43%, I just signed"

Publik nggak cuma marah di media sosial. Mereka benar-benar mekanisme demokratis-isi petisi, tanda tangan, tekan institusi. Ini level kemarahan yang terorganisir.

---

Respons Produksi: Tutup Pop-Up Store Lebih Cepat dari Jadwal

Tim produksi Perfect Crown akhirnya angkat bicara, meski reaksinya bisa dibilang too little, too close to too late. Mereka mengumumkan dua hal:

1. Konten yang kontroversial akan dihapus.

2. Pop-up store yang sedang beroperasi di department store di Yeouido akan ditutup lebih cepat dari jadwal.

Nah, di sinilah Seola harus bicara jujur.

Pop-up store ini awalnya dijadwalkan beroperasi selama 10 hari-termasuk weekend dan hari libur pengganti. Tapi mereka putuskan tutup dalam 7 hari. Dan komentar publik soal ini? Tajam banget:

"The pop-up store has done everything it was supposed to do and sold everything it was supposed to sell. It was supposed to run for 10 days, including the weekend and the substitute holiday, but they're wrapping it up in just 7 days. It hasn't even ended yet, but they're acting like they're being sensitive about the situation and pretending it's already over after just one day. This PR stunt about an early closure is really annoying."

Baca itu lagi. Publik nggak bodoh. Mereka tahu bedanya genuine accountability dan PR damage control. Menutup pop-up store lebih cepat terlihat seperti respons, tapi kalau merchandise sudah laris terjual, apa yang sebenarnya dikorbankan?

---

MBC: Si yang Selalu Bungkam

Dan ini yang paling bikin Seola kesal.

MBC, sebagai broadcaster yang menayangkan drama ini, sampai artikel ini ditulis belum memberikan pernyataan resmi yang substansial. Nada respon mereka-atau lebih tepatnya, kurangnya respons-memicu pertanyaan besar: apa refleksi sesungguhnya yang sudah dilakukan MBC?

Komentar asli menyebutkan hal yang Seola rasa valid:

"It's unclear what genuine reflection or responsible action MBC, which plays dumb and applies double standards, has actually taken."

MBC punya sejarah panjang dalam dunia penyiaran Korea. Mereka seharusnya jadi standar, bukan jadi contoh bagaimana nggak menangani krisis. Kalau broadcaster besar aja main aman dan pura-pura nggak ngerti, siapa yang harus publik andalkan?

---

Opini Seola: Ini Bukan Cuma Soal Drama

Seola mau jujur di sini. Kontroversi Perfect Crown bukan sekadar soal akurasi kostum atau detail sejarah yang salah. Ini soal bagaimana Korea memperlakukan narasi budayanya sendiri di era konten global.

Begitu sebuah drama masuk ke Netflix, Viu, atau platform OTT mana pun, audiensnya nggak cuma orang Korea. Ada jutaan penonton internasional yang mungkin nggak punya konteks sejarah untuk membedakan mana yang fiksi dan mana yang fakta. Dan kalau konten yang terdistorsi itu beredar tanpa koreksi, yang terbentuk adalah persepsi yang salah-bukan cuma soal Korea, tapi soal bagaimana Asia Timur direpresentasikan secara global.

Petisi ini, secara mekanisme, adalah cara publik menolak narasi yang mereka anggap merusak. Dan fakta bahwa angkanya naik secepat ini menunjukkan bahwa audiens modern nggak cuma pasif menonton-mereka aktif menuntut akuntabilitas.

Apakah petisi ini akan berhasil membatalkan Perfect Crown secara resmi? Seola nggak bisa janji. Tapi satu hal yang pasti: era di mana produser bisa asal garap konten sensitif tanpa konsekuensi sudah berakhir. Publik punya suara, dan mereka nggak ragu menggunakan.

---

Seola akan terus memantau perkembangan petisi ini dan respons resmi dari MBC. Stay tuned, dan kalau kalian punya pendapat soal kontroversi ini, kolom komentar terbuka lebar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0